Hari
ini hujan lagi.
Otakku
menjadi kisut karena kedinginan.
***
“Aku antar pulang , yuk,” tawar April padaku. Aku
mengangguk, hari ini aku mampir ke rumah April yang tinggal di desa tetangga.
Niatnya sih mau pinjam beberapa buku Kimia—kecelakaan itu membuatku tertinggal
pelajaran−tapi karena hujan, aku terpaksa pulang sedikit lebih sore.
April menyuruhku membonceng motornya. Dia mengoceh ini itu.
Tapi perhatianku tidak tertuju sepenuhnya pada ucapan April. Seorang nenek tua
melambai padaku di depan gubuknya ketika kami melintasinya. Ragu-ragu aku
membalas lambaiannya.
Aku tidak mengenalnya, tetapi dia selalu ada di depan
rumahnya setiap kali aku main ke rumah April.
“Kamu ngapain, Ka?” tanya April. Dia
pasti melihatku melambai lewat kaca spion.
“Eh, enggak.”
Gubuk nenek tua itu terlewat.
Dan beberapa menit kemudian, kami sudah berada di depan
rumahku.
***
“Argh !!”
Aku ingin menjerit. Susah sekali berkonsentrasi kalau di luar
berisik. Aku ingin marah. Tapi siapa yang akan aku marahi ? Itu
kan cuma suara air tumpah dari langit. Tapi tetap saja mengganggu.
Soal Kimia yang sedang aku kerjakan ini
susah sekali. Mungkin
gampang bagi April, karena dasarnya dia pintar dalam bidang apapun.
Pintu kamarku terbuka, adikku, Ira masuk.
“Kak, hari ini hujan lagi. Main hujan-hujanan yuk?” ajak Ira.
“Ogah,” tolakku kasar.
“Dulu kakak kan suka hujan,” bujuknya. Dia belum mau
menyerah rupanya.
“Kakak udah gede, main sendiri sana.”
Adikku masih berdiri di depan pintuku, aku mengabaikannya
dan berusaha fokus pada Kimia, akhirnya Ira menyerah dan keluar.
Dari jendela kamarku, kulihat dia berlari-lari kecil
menghadang hujan.
Dengan frustasi, kututup buku kimia itu keras-keras. Tidak
ada yang terserap masuk ke oatkku.
Hujan in jahat.
Aku benci hujan.
Aku tidak peduli pada pendapat orang tentang hujan yang
membersihkan udara, sehingga setelah hujan reda, udara menjadi sejuk.
Hujan itu kotor−mengandung banyak debu dan kotoran.
Hujan juga bisa mencelakakan orang. Aku
benci saat aku memandang cermin, yang mencolok dari wajahku adalah bekas
jahitan lebar di dahi.
Luka itu tidak bisa hilang.
Aku benci membayangkan ibuku
berdarah-darah di jalanan tertindih motorku sementara aku tergeletak dengan
luka menganga. Aku benci mengingat bahwa itu semua nyata.
Semuanya karena hujan.
***
Kau bilang kau menyukai hujan ?
Tapi mengapa saat diluar hujan, kau membuka payungmu?
***
Bu Tantri tengah menjalankan materi
kimia tentang ikatan kovalen di depan kelas. Aku duduk mematung di kursiku,
bukannya sedang serius mendengarkan penjelasan Bu Tantri, aku sedang memandangi
hujan dari balik kaca jendela kelas.
Aku sebal. Rasa-rasanya ingin berteriak
keras-keras menyuruhnya berhenti. Nada-nada air jatuh yang aneh seperti sengaja
meledekku.
Aku ingat kata-kata Ibuku dulu, dan itu
membuat sedih.
“Ka, jangan lama-lama di luar. Nanti masuk angin,” Mama selalu
berada di ambang pintu dengan handuk besar berada di tangan setelah aku kecil
bermain dengan hujan.
Aku biasanya hanya mendengus kesal, karena tak bisa menolak
meskipun aku masih ingin hujan-hujanan diluar.
Lalu Mama mengusap tubuh mungilku dengan handuk itu.
Menghangatkanku.
“Mandi sana,” katanya sembari menepuk pundakku. Ah… bahkan
aku masih bisa merasakan tangannya hingga disana.
“Ka?”panggil seseorang−April? Oh, aku melamun lagi rupanya
sampai-sampai tidak sadar kelas kimia sudah berakhir.
“Kok diam?” tegur April lagi.
“Eh, ada apa?”
“Bukunya dibawa nggak? Besok kan ada ulangan kimia. Aku mau belajar
pakai apa kalau bukunya ada di kamu?”
Aku lupa. Padahal hari ini pun ada
kimia. “Maaf,
Pril. Aku nggak bawa. Nanti sore aku balikin.” jawabku.
April menimpali lagi. Tapi tidak kudengarkan. Aku larut dalam
lamunanku lagi.
Kenangan itu menyakitiku.
Tuhan, kalau boleh, aku benar-benar
ingin kembali ke masa itu.
***
Sorenya, aku berjalan kaki ke rumah April. Aku belum berani
naik motor, lagi pula meskipun kami beda desa, tapi rumah kami tidak terlampau
jauh.
Entah, aku berdoa apa hari ini. Saat
aku hampir sampai di rumahnya, hujan turun deras. Pertama memang satu dua
tetes, jadi tidak terlalu kuhiraukan.
Tapi sekarang badanku hampir basah kuyup. Aku menyesal tidak
membawa payung.
“Nduk, sini mampir. Jangan
hujan-hujanan.” Suara parau seseorang memanggilku. Nenek itu berdiri sambil
melambai-lambai dari gubuknya.
Cepat-cepat aku berteduh di teras
rumahnya.
“Kenapa ndak bawa payung ?” tanyanya.
“Nggak tahu mau hujan,” jawabku sekenanya. Nenek itu
mangut-mangut. Dia menyirih.
“Tak bikinin teh, ya ?” tawarnya dengan logat jawanya yang
kental.
Aku tidak menolak, nenek itu menghilang ke dalam rumah.
Aku mematung di sebuah kursi reot. Nenek itu kembali dengan
secangkir teh di tangannya. Ragu-ragu kuambil cangkir itu dari genggaman
keriputnya.
Aku menebak-nebak berapa kira-kira umur tangan itu. Kupikir
diatas tujuh puluhan.
“Mau kemana?“ tanya nenek itu.
“Ke rumah temen, nek.”
“Kok jalan kaki? Mboten
nitih kendaraan[i]?”
Aku menggeleng. Nenek itu memandangi luka didahiku. Aku
merasa nggak nyaman. Pasti dia akan bertanya tentang…
“Baru kecelakaan, ya?”
Ini.
Aku mengangguk. Nenek itu terkekeh,
terlihat gigi tengahnya sewarna tembaga.
“Anak muda memang ndak hati-hati. Kalau memakai motor. Sak penake dhewe[ii].”
Nenek itu menceracau, aku mendengarkan. “Untung kamu ndak kenapa-napa.”
lanjutnya.
“Tapi Ibu saya meninggal,” timpalku cepat. Cangkir di
tanganku bergetar hebat. Aku tidak tahu kenapa aku bilang begitu, kata-kata itu
serasa tergelincir begitu saja dari lidahku.
Nenek itu tersenyum. Kenapa tersenyum?
Apa mati itu sesuatu yang baik?
“Jangan lupa, mati itu baru sebuah
awal.“
“Saya ada disana,melihat ibu saya sekarat. Saya takut
melihat Ibu saya begitu.”air mataku turun.
Hampir seirama dengan hujan diluar.
“Duh, masih untung kamu.”
“Kenapa beruntung?”alisku menaut.
“Umurmu berapa tho?”
“16 tahun,” jawabku.
“Selama 16 tahun, kamu ditemani Ibumu.
Lah diluar sana, jauh disana, ada anak kecil yang ndak tahu siapa Ibunya.”
Aku diam. “Tapi, Ibu saya meninggal gara-gara saya.”
“Kita mana tahu umur seseorang. Kalau Ibu kamu memang harus
meninggal, itu karena sudah takdirnya. Jangan salahkan diri, itu hanya menambah
beban.”
Aku terisak. “Saya kangen sama Ibu.”
“Kamu bisa mengenang Ibumu lewat foto, jaman saiki kan sapa sing durung duwe foto[iii].”
Aku terdiam sejenak. Teringat foto-foto Ibuku yang beberapa
minggu lalu dibakar Ayahku. Aku ragu masih ada yang tersisa.
“Saya nggak yakin punya fotonya.”
“Masa mboten gadhah,
taun piro tho saiki[iv]?”nenek
tua itu terkekeh. Tapi melihat wajahku yang serius, rautnya kembali serius.
Aku menyeruput teh panasku.
“Kalau kangen, kamu toh bisa bercermin. Amati wajahmu, lihat
apa yang Ibumu wariskan padamu,” sambungnya.
Tanpa sadar aku meraba wajahku. Kurasakan wajahku basah
seketika akibat air mata.
“Nek,” panggilku. “Nenek pernah kehilangan seseorang. Orang
yang sangat nenek cinta?” Aku memberanikan diri untuk bertanya.
Nenek itu tidak langsung menjawab. Dia menghela napas
panjang. “Nenek sudah tua, apa lagi yang tersisa? Toh sebenarnya kita ini
kosong, ndak punya apa-apa. Jadi kita
ini sebetulnya ndak kehilangan apa-apa,” jawabnya sambil menyunggingkan senyum.
Aku bisa protes apa lagi? Kuamati hujan di depanku tidak
kunjung reda. Rumah April sudah sangat dekat. Apa seharusnya aku meminjam
payung nenek ini?
Kulihat April keluar dari rumahnya yang hanya selisih
beberapa rumah saja dari sini. “Ka, ngapain disana?” serunya ketika melihatku.
“Sebentar, Pril.” Aku balas menyeru. Lalu, aku menoleh pada
nenek disampingku. “Nek, maaf, teman saya sudah menunggu. Saya permisi dulu,”
pamitku.
Nenek itu tersenyum, dia mengunyah daun sirih lagi. “Ojo lali, nyawa iku uga titipane gusit[v].”
Aku mengangguk.
Setelah itu, aku berlari ke rumah April, tapi belum sampai
di depannya, April sudah menghadangku terlebih dahulu dengan payungnya.
“Kamu sedang apa di rumah itu?” tanyanya setengah
menyelidik.
Aku mengangkat bahu.
Aku langsung mengembalikan buku kimia April. Untungnya, buku
itu kumasukkan ke dalam kantong anti air, jadi tidak basah.
April meminjamiku mantal hujan.
Dia juga menawariku untuk makan, minum dan meminjamiku
pakaiannya yang kering, tapi aku menolak. Aku ingin cepat-cepat pulang.
“Maaf, ya, merepotkan,”ujarku saat April hendak mengantarku
pulang.
“Nggak papa, kok.”
Kami memakai jas hujan dan motor April segera melesat ke
jalanan.
Aku bertekad untuk tersenyum pada nenek itu. Dia pasti
tengah bersantai memandangi hujan di depan rumahnya.
Tapi…
Tunggu, rumah itu ambruk. Hanya tinggal puing-puing yang
berdiri ragu.
“April, April. Rumah nenek itu kenapa?”
“Rumah mana?” tanyanya bingung.
Rumah nenek itu terlewat.
“Tempatku nunggu hujan reda tadi lho, tadi belum roboh
begitu.”
“Ooh… Rumahnya Mbah Sunarti? Itu kan sudah ambruk sejak aku
kecil.”
Aku kaget. Tidak percaya.
“Mbah Sunarti ditinggal anak-anaknya pergi. Tiap hari entah
mereka dimana ditunggunya di depan rumah. Tapi, sampai dia meninggal pun,
anak-anaknya nggak ada yang menengok.”
“Tapi, tadi…” Kata-kata yang siap meluncur itu tergelincir
lagi ke dalam tenggorokanku.
“Tadi…”
“Kamu berani banget, Ka. Aku aja nggak
berani deketin rumah itu. Katanya berpenunggu.”
Ojo lali nyawa iku uga titipane Gusti.
Aku menelan ludah. Tubuhku menggigil, bukan
karena udara yang dingin atau pakaianku yang basah ini mengerutkan badanku.
Tapi, tadi aku berbicara padanya.
April menurunkanku di depan rumahku.
“Makasih, ya, Pril.”
“Sama-sama. Aku pulang dulu.” Dia dan motornya
menjauh dari pandanganku.
Ira yang sedang bermain hujan-hujanan mengajakku untuk ikut
bermain. Tapi aku mengabaikannya.
Maksud April, tadi aku berbicara pada arwah? Hahaha, lucu
sekali. Alih-alih berpikir, aku malah melihat ke dalam cermin. Amati
wajahmu, lihat apa yang Ibumu wariskan padamu.
Kuamati bayangan di dalam cermin.
Itu aku.
Dengan mata milik Ibu, hidung milik Ibu. Tapi itu aku. Aku
mirip Ibuku, dan mungkin maksud nenek itu−Ibu ada di dalamku.
Kusibakkan poni basah yang menutupi dahiku. Luka itu.
Aku memejamkan mataku, lalu membukanya lagi. Basah…
[ii] Sak penake dhewe = Seenaknya sendiri.
[iii] Jaman saiki sapa kan sing during duwe foto? = Zaman sekarang siapa
sih yang belum punya foto?
[iv] Masa mboten gadhah, taun pira tho saiki? = Masa tidak punya, tahun berapa sih sekarang?
[v] Ojo lali nyawa iku uga titipane Gusti = Jangan lupa, nyawa itu juga
titipan Tuhan.

0 Comments